Aktivitas

SURVEI GAYABERAT INDONESIA

Agar data gayaberat di seluruh wilayah Indonesia mengacu kepada referensi gayaberat yang sama, tentunya perlu pula dibangun Jaring Kontrol Gayaberat Nasional (JKGN) yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebaiknya, nilai gayaberat di titik-titik JKGN ditentukan melalui pengukuran gayaberat secara absolut mengingat Indonesia yang terletak di wilayah tektonik aktif. Erat kaitannya dengan hal tersebut, diperlukan pengukuran berkala (semi-annual atau annual) terhadap titik-titik JKGN sebagai pemantauan dari perubahan nilai gayaberatnya. Selain pengukuran secara airborne, diperlukan pula perapatan gayaberat di titik-titik tertentu di wilayah darat untuk dijadikan data tambahan atau kontrol terhadap hasil pengukuran airborne. Perapatan titik-titik ini, dapat dilakukan melalui pengukuran gayaberat secara terestris relatif yang terikat kepada JKGN. Badan Informasi Geospasial (BIG) khususnya Bidang Jaring Kontrol Gayaberat dan Pasang Surut di bawah Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika (PJKGG) memiliki tupoksi untuk melaksanakan pengukuran gayaberat. Survei gayaberat yang dilakukan oleh PJKGG di antaranya adalah gayaberat airborne, gayaberat absolut dan gayaberat terestris relatif.

Badan Informasi Geospasial (BIG) khususnya Bidang Jaring Kontrol Gayaberat dan Pasang Surut di bawah Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika (PJKGG) memiliki tupoksi untuk melaksanakan pengukuran gayaberat. Survei gayaberat yang dilakukan oleh PJKGG di antaranya adalah gayaberat airborne, gayaberat absolut dan gayaberat terestris relatif.

SURVEI GAYABERAT AIRBORNE
Mengingat pentingnya ketersediaan sistem referensi geospasial vertikal yang akurat secara cepat untuk memenuhi berbagai kebutuhan strategis nasional, maka perlu dilakukan percepatan penyelenggaran geoid Indonesia. Metode yang paling tepat dan efisien dalam mendukung percepatan penyelenggaraan geoid Indonesia adalah dengan metode survei gayaberat airborne.

Pada dasarnya, pengukuran gayaberat secara airborne merupakan pengukuran gayaberat secara relatif. Artinya, yang diukur adalah perbedaan antara nilai gayaberat di satu tempat tertentu dengan nilai gayaberat di satu titik yang telah diketahui nilai gayaberatnya.

Dalam pelaksanaan survey gayaberat airborne dibutuhkan alat gravimeter khusus untuk survey airborne. Hingga tahun 2019, PJKGG telah melakukan survey gayaberat airborne menggunakan gravimeter La Coste & Romberg Air-Sea Gravity S-99 milik DTU Denmark, La Coste & Romberg Air-Sea Gravity S-130 milik Taiwan, dan La Coste & Romberg Air-Sea Gravity GT-2A yang dimiliki oleh PJKGG BIG.



La Coste & Romberg Air-Sea Gravity S-99

Gravimeter La Coste & Romberg Air-Sea Gravity S-130

La Coste & Romberg Air-Sea Gravity GT-2A

Alat gravimeter airborne tersebut terinstal di dalam pesawat khusus untuk melakukan survei. Sejauh ini pesawat yang digunakan oleh BIG untuk melakukan survey gayaberat airborne adalah pesawat Cessna Grand Caravan tipe C208B.

Pesawat ini menggunakan sistem autopilot dan system navigasi yang dilengkapi dengan layar display kecil di bagian kemudi pilot untuk memonitor jalur terbang sehingga meminimalisir kemungkinan pesawat terbang melewati jalur yang tidak sesuai dengan yang sudah direncanakan. Perencanaan jalur ini sendiri sudah disesuaikan dengan kecepatan pesawat selama terbang, yaitu 277 km/jam dengan interval pengambilan data gayaberat setiap 77 m/detik dan jarak antara jalur terbang sebesar ± 15 km

Selain alat gravimeter airborne, di dalam pesawat juga telah diinstal GPS yang digunakan sebagai rover selama pesawat melakukan survei.
Sementara itu untuk base GPS sendiri dipasang di atas pilar GBU yang pada umumnya tersebar di milik Stasiun Meteorologi BMKG di setiap bandara besar di Indonesia

Badan Informasi Geospasial telah melaksanakan survei gayaberat airborne di seluruh kepulauan yang ada di Indonesia. Pada tahun 2008 survei dilaksanakan di Pulau Sulawesi, 2009 di Pulau Kalimantan bagian tengah dan timur. Pada tahun 2010 di Pulau Kalimantan bagian Barat dan Provinsi Papua Barat, sementara pada 2011 kegiatan ini dilaksanakan di Provinsi Papua. Kegiatan survei airborne yang berjalan sejak tahun 2009 – 2011 merupakan kegiatan kerjasama dengan Technical University of Denmark (DTU). Sempat vakum selama beberapa tahun, Badan Informasi Geospasial menginisiasi untuk kembali melaksanakan kegiatan ini pada tahun 2018 dengan area survei Pulau Sumatera dan pada tahun 2019 di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.


SURVEI GAYABERAT ABSOLUT
Nilai Gayaberat digunakan sebagai nilai acuan pengamatan gayaberat baik di darat (terestrial) maupun dengan wahana pesawat (airborne) diperlukan nilai gayaberat absolute yang diukur dengan pengukuran gerak jatuh bebas (Orde Nol, SNI Jaring Kontrol Gayaberat)

Pengukuran Absolute Gravity bertujuan untuk mendapakan nilai gayaberat absolut atau gayaberat mutlak pada titik tersebut. Nilai gayaberat absolut tidak memerlukan referensi pengikatan nilai terhadap titik acuan manapun, sehingga di masa yang akan datang Indonesia akan memiliki datum/titik acuan gayaberat sendiri, tidak lagi mengacu pada IGSN71.

Nilai gayaberat asbolut didapat setelah melakukan pengolahan terhadap hasil pengukuran gayaberat absolut dan gradien gravity menggunakan perangkat lunak dengan nilai ketidakpastian < 10 mikroGal dan jumlah prosentase data yang diterima lebih dari 80 persen.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, BIG PJKGG menggunakan alat gravimeter absolut Micro-G Lacoste A-10 Freefall Absolut Gravity dan CG-6 Relative Gravimeter untuk pengukuran gradien gravitynya.

Badan Informasi Geospasial, khususnya PJKGG mengelola sebanyak 52 buah pilah gayaberat utama (GBU) yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga pertengahan tahun 2019, dari 52 buah pilar GBU tersebut terdapat 30 buah pilar yang sudah memiliki nilai gayaberat absolut, 10 pilar yang nilai gayaberatnya diukur secara relatif dan 13 pilar lain yang belum diukur nilai gayaberatnya baik secara relatif maupun absolut. Namun salah satu pilar di Pangkal Pinang yang sudah diukur nilai gayaberat absolutnya saat ini tidak digunakan karena nilai ketidakpastiannya terlalu besar sehingga harus dipindah ke pilar GBU yang lain.

SEBARAN PILAR GBU DI WILAYAH SUMATERA

SEBARAN PILAR GBU DI WILAYAH JAWA

SEBARAN PILAR GBU DI WILAYAH BALI-NUSA TENGGARA

SEBARAN PILAR GBU DI WILAYAH SULAWESI

SEBARAN PILAR GBU DI WILAYAH KEPULAUAN MALUKU DAN PAPUA



SURVEI GAYABERAT TERESTRIS RELATIF
Metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan. Pengukuran ini pada dasarnya adalah pengukuran gayaberat relatif yang dilakukan di darat. Dalam pelaksanaannya, pengukuran dilakukan dengan membentuk ikatan atau loop yang dimulai dan diakhiri pada satu titik referensi yang sama.

Titik referensi ini pada umumnya menggunakan pilar Gayaberat Utama (GBU) yang nilai gayaberat absolutnya sudah diukur dengan jarak antara titik gayaberat yang nilai relatifnya akan diukur sebesar ± 5km. Untuk penentuan lokasi dari titik yang diukur nilai gayaberatnya dilakukan dengan pengukuran GPS dengan metode static atau RTK tergantung pada ketersediaan stasiun CORS di wilayah tersebut.

Hingga tahun 2019, Badan Informasi Geospasial telah melaksanakan survey gayaberat terestris di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Sulawesi dan sebagian kecil Kalimantan. Indeks data gayaberat terestris tersurvei dapat dilihat pada gambar berikut ini: